Saya memang seorang remaja biasa. Yang labil, makanya ada sebutan ABG Labil a.k.a Ababil. Yang mau 94uL, ehm tapi cenderung ke 4L4Y sih (no offense). Yang suka iri kalo temen nya punya gadget baru. Semua ke tidak sempurnaan seorang anak remaja ada dalam diri saya.
Sampai suatu hari saat sedang sharing bersama teman-teman seperjuangan (based on true story) saya dibukakan pintu hati dan pikirannya. Sebenarnya ini sudah kesekian kalinya sih, Cuma saya berharap yang kali ini bisa benar-benar menggugah hati saya yang terdalam agar sebisa mungkin tidak mengulangi yang buruk-buruk lagi. Okay straight to the point. Sebelum saya menulis postingan ini saya termasuk sebagai seorang anak yang suka menuntut ini-itu terhadap orang tua saya. Saya selalu berpikir bahwa mereka SELALU mampu menyediakan apa yang saya minta karena selama ini apa yang saya inginkan memang terkabul. Puji Tuhan. Kadang saya gak pernah mikir bagaimana orang tua saya itu bekerja keras siang malam banting tulang demi membiayai saya sekolah, makan, dan biaya lain-lain. Saya gak pernah mau tahu tentang itu semua. Saya tau nya ya udah jadi aja gitu ada makanan, ya dimakan. Kalo makanannya gak enak, kadang ngomel-ngomel minta yang lain. Uang jajan habis, tinggal minta. Mau jalan bareng temen, minta uang lagi. Selalu aja seperti itu.
Saya kurang bisa menghargai apa yang sudah saya dapat. Mengapa bisa begitu? Simple aja. Karena saya selalu melihat keatas. Saya selalu menjadikan orang-orang yang “lebih” diatas saya sebagai tolak ukur. Ya jelas aja saya susah untuk menghargai, bahkan hampir tidak mungkin. Sampai disuatu kesempatan, saya mendengar cerita-cerita yang biasanya Cuma ada disinetron tapi ternyata benar-benar terjadi dikehidupan nyata orang-orang sekeliling saya. Dan saya yakin ini adalah waktu yang tepat. Tuhan memiliki segala cara untuk menyadarkan umat-Nya. Mungkin saya adalah orang yang disadarkan dengan cara seperti ini.
Saat saya menatap kehidupan yang “kurang” dibawah saya, betapa bersyukurnya saya memiliki semua apa yang saya dapat saat ini. Semua fasilitas saya dapatkan, tapi saya gak pernah bersyukur atas itu semua. Tuhan mengaruniakan kedua orang tua yang masih lengkap dan mendidik saya dengan benar, tapi terkadang saya sering ngomel-ngomel sendiri karena keinginan yang tidak dituruti, dsb.
Jujur didalam hati saya yang terdalam (pas lagi waras), dalaammmmm sekali sampai gak ada yang bisa lihat saya pengen membuat orang tua saya bahagia. Mungkin selama saya hidup 15 tahun lebih beberapa bulan ini saya Cuma bisa menyusahkan mereka, merepotkan mereka, mengecewakan mereka. Saya pengen sebelum saya berumur 16 tahun yang artinya sudah semakin dewasa (bukan hanya fisiknya saja tapi juga mental dan cara berpikirnya) saya dapat membuat paling tidak mereka bangga telah membesarkan dan merawat saya sebagai anak.
Tuhan selalu memiliki cara-Nya tersendiri untuk menegur dan menyadarkan umat-Nya. Dan saya sangat bersyukur Tuhan melakukan hal tersebut pada saya. Saya berharap diumur 16 ini saya dapat menjadi pribadi yang lebih dekat kepada Tuhan, lebih dewasa, lebih dapat mensyukuri setiap apa yang saya dapat bukan hanya dalam keadaan suka namun juga dalam keadaan duka. Yah harapan-harapan pada umumnya sajalah menjadi yang lebih baik dari sebelumnya.
Semoga dapat menjadi inspirasi bagi anda. Cheers, Grace.
Sampai suatu hari saat sedang sharing bersama teman-teman seperjuangan (based on true story) saya dibukakan pintu hati dan pikirannya. Sebenarnya ini sudah kesekian kalinya sih, Cuma saya berharap yang kali ini bisa benar-benar menggugah hati saya yang terdalam agar sebisa mungkin tidak mengulangi yang buruk-buruk lagi. Okay straight to the point. Sebelum saya menulis postingan ini saya termasuk sebagai seorang anak yang suka menuntut ini-itu terhadap orang tua saya. Saya selalu berpikir bahwa mereka SELALU mampu menyediakan apa yang saya minta karena selama ini apa yang saya inginkan memang terkabul. Puji Tuhan. Kadang saya gak pernah mikir bagaimana orang tua saya itu bekerja keras siang malam banting tulang demi membiayai saya sekolah, makan, dan biaya lain-lain. Saya gak pernah mau tahu tentang itu semua. Saya tau nya ya udah jadi aja gitu ada makanan, ya dimakan. Kalo makanannya gak enak, kadang ngomel-ngomel minta yang lain. Uang jajan habis, tinggal minta. Mau jalan bareng temen, minta uang lagi. Selalu aja seperti itu.
Saya kurang bisa menghargai apa yang sudah saya dapat. Mengapa bisa begitu? Simple aja. Karena saya selalu melihat keatas. Saya selalu menjadikan orang-orang yang “lebih” diatas saya sebagai tolak ukur. Ya jelas aja saya susah untuk menghargai, bahkan hampir tidak mungkin. Sampai disuatu kesempatan, saya mendengar cerita-cerita yang biasanya Cuma ada disinetron tapi ternyata benar-benar terjadi dikehidupan nyata orang-orang sekeliling saya. Dan saya yakin ini adalah waktu yang tepat. Tuhan memiliki segala cara untuk menyadarkan umat-Nya. Mungkin saya adalah orang yang disadarkan dengan cara seperti ini.
Saat saya menatap kehidupan yang “kurang” dibawah saya, betapa bersyukurnya saya memiliki semua apa yang saya dapat saat ini. Semua fasilitas saya dapatkan, tapi saya gak pernah bersyukur atas itu semua. Tuhan mengaruniakan kedua orang tua yang masih lengkap dan mendidik saya dengan benar, tapi terkadang saya sering ngomel-ngomel sendiri karena keinginan yang tidak dituruti, dsb.
Jujur didalam hati saya yang terdalam (pas lagi waras), dalaammmmm sekali sampai gak ada yang bisa lihat saya pengen membuat orang tua saya bahagia. Mungkin selama saya hidup 15 tahun lebih beberapa bulan ini saya Cuma bisa menyusahkan mereka, merepotkan mereka, mengecewakan mereka. Saya pengen sebelum saya berumur 16 tahun yang artinya sudah semakin dewasa (bukan hanya fisiknya saja tapi juga mental dan cara berpikirnya) saya dapat membuat paling tidak mereka bangga telah membesarkan dan merawat saya sebagai anak.
Tuhan selalu memiliki cara-Nya tersendiri untuk menegur dan menyadarkan umat-Nya. Dan saya sangat bersyukur Tuhan melakukan hal tersebut pada saya. Saya berharap diumur 16 ini saya dapat menjadi pribadi yang lebih dekat kepada Tuhan, lebih dewasa, lebih dapat mensyukuri setiap apa yang saya dapat bukan hanya dalam keadaan suka namun juga dalam keadaan duka. Yah harapan-harapan pada umumnya sajalah menjadi yang lebih baik dari sebelumnya.
Semoga dapat menjadi inspirasi bagi anda. Cheers, Grace.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar